BOJONEGORO – Pondok Pesantren Muhammadiyah Boarding School (MBS) Al Amin Riset dan Teknologi (Religi) Bojonegoro menggelar sarasehan “Keperawatan Islami: Paradigma Kesehatan Secara Holistik” di Aula Simponi, Senin (7/9/2026). Kegiatan yang dihadiri seluruh stakeholder pesantren ini menjadi momentum memperkuat sinergi antara ponpes dengan STIKES Muhammadiyah Bojonegoro, sekaligus tindak lanjut pertemuan Ikatan Wali Santri (IKWAS) dan hasil screening kesehatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro beberapa waktu lalu.
Kegiatan ini bukan seremonial belaka. Ia menjadi tindak lanjut konkret dari pertemuan Ikatan Wali Santri (IKWAS) dan hasil screening kesehatan yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro di lingkungan pesantren bulan lalu. Dari data screening itulah, para pengurus dan wali santri sepakat bahwa pemahaman kesehatan yang utuh bukan sekadar fisik sangat mendesak untuk ditanamkan.
Hadir sebagai narasumber tunggal, Dr. Ns. Sudalhar, M.Kep. , sosok yang tak asing di dunia kesehatan Bojonegoro. Ia adalah Dewan Pakar Bidang Kesehatan di Ponpes MBS Al Amin Religi, sekaligus Ketua STIKES Muhammadiyah Bojonegoro dan Sekretaris PPNI. Kehadirannya menjadi simbol nyata sinergi erat antara pesantren dan perguruan tinggi kesehatan di bawah naungan Muhammadiyah.
“Kesehatan dalam Islam bukan hanya soal tidak sakit. Ini tentang keseimbangan fisik, mental, sosial, dan spiritual. Jika salah satu terganggu, maka seluruh kehidupan ikut goncang,” ujar Dr. Sudalhar di hadapan para peserta.
Ia mengutip QS. At-Tiin (95:4) bahwa manusia diciptakan dalam bentuk terbaik, serta sabda Rasulullah yang sering kita dengar: “Ada dua nikmat yang sering dilalaikan manusia, yaitu sehat dan waktu senggang” (HR. Bukhari). Dalam Islam, upaya menjaga kesehatan terbagi dalam empat pilar: promotif (meningkatkan kesadaran), preventif (mencegah penyakit), kuratif (berobat), dan rehabilitatif (pemulihan). Semua dilakukan dengan keyakinan bahwa Allah-lah Yang Maha Menyembuhkan, tetapi manusia tetap wajib berikhtiar.
Hasil screening Dinkes Bojonegoro pun dijadikan pijakan awal untuk menyusun program intervensi yang lebih terarah mulai dari pencegahan penyakit menular, peningkatan gizi, hingga penguatan kesehatan mental para santri. “Kami tidak ingin sekadar tahu data, tapi bergerak nyata,” tegasnya.
Yang menarik, sarasehan ini bukan akhir dari segalanya. Kolaborasi strategis antara Ponpes MBS Al Amin Religi dan STIKES Muhammadiyah Bojonegoro akan terus berlanjut. Kedua lembaga berkomitmen mengembangkan program riset bersama, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di lingkungan pesantren, serta pengabdian masyarakat yang terintegrasi. Dr. Sudalhar, dengan dua perannya sebagai dewan pakar ponpes dan pimpinan STIKES, menjadi jembatan yang menghubungkan dunia pendidikan tinggi dengan kebutuhan riil di pesantren.
Ponpes MBS Al Amin Religi sendiri telah ditunjuk Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebagai pilot project Pesantren Muhammadiyah Sistemik (PMS) . Predikat ini bukan sekadar gelar, melainkan amanah untuk menjadi percontohan pengelolaan pesantren yang modern, ilmiah, dan tetap berakar pada nilai-nilai Islam.
Melalui sinergi ini, ponpes tidak hanya bercita-cita menjadi tempat belajar yang nyaman dan mengembangkan potensi diri, tetapi juga menjadi pilihan utama masyarakat luas khususnya dalam layanan kesehatan yang holistik, humanis, dan islami.
Para wali santri dan pengurus ponpes menyambut antusias. Mereka berharap kolaborasi ini tak berhenti di seminar, tapi terus mengalir dalam program-program nyata yang dirasakan langsung oleh santri dan keluarga mereka. “Kami ingin anak-anak kami tumbuh sehat jasmani, rohani, dan cerdas. Ponpes ini harus jadi rumah kedua yang aman dan berkah,” ujar salah satu perwakilan IKWAS.
Dengan semangat kebersamaan, Ponpes MBS Al Amin Religi dan STIKES Muhammadiyah Bojonegoro optimistis dapat terus melahirkan inovasi-inovasi kesehatan dan pendidikan yang membawa kemaslahatan bagi umat. Karena pada akhirnya, kesehatan adalah investasi terbaik untuk masa depan baik di dunia maupun di akhirat. (s.to/red)