BOJONEGORO, 22/06/2026 — Di tengah hiruk-pikuk akhir tahun ajaran dan dinamika pengelolaan lembaga pendidikan modern, sebuah pesantren di Bojonegoro justru mengambil langkah kontemplatif namun strategis. Bertempat di Aula Simponi yang megah, Keluarga Besar PP MBS Al Amin Religi (Riset dan Teknologi) menggelar Rapat Kerja (Raker) Akhir Tahun selama tiga hari ke depan, mulai 22 hingga 24 Juni 2026.
Mengusung tema besar “Sinergi Struktural dan Pilot Project Menuju Pesantren Riset Berkelanjutan”, agenda yang diikuti oleh seluruh stakholder pesantren ini bukanlah sekadar forum rutin tahunan. Lebih dari itu, forum ini menjadi panggung bagi para stakeholder mulai dari pengurus pondok, guru SMP, SMA, hingga jajaran manajemen Simponi untuk menyatukan visi dalam membangun ekosistem pendidikan berbasis riset yang berkelanjutan.
Dalam sambutan pembukaannya, Ketua Panitia, Ustad. Miftachul Afif Abduh, M.Pd., dengan tegas mengingatkan bahwa Raker ini bukan sekadar seremoni seremonial belaka.
“Kita berkumpul di sini bukan untuk menghabiskan waktu, melainkan untuk menjadikan momen ini sebagai cermin. Ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan refleksi dan evaluasi mendalam. Tanpa evaluasi, kita tidak akan pernah tahu di mana posisi kita dan sejauh mana kita telah berjalan,” ujar Ustad. Miftachul di hadapan para peserta.
Ia menekankan bahwa setiap keputusan yang dihasilkan dari forum ini akan menjadi fondasi bagi kesuksesan program-program ke depan. “Mari kita tinggalkan sejenak rutinitas, dan fokus pada bagaimana kita bisa melompat lebih tinggi di tahun ajaran mendatang,” tambahnya.
Menghidupkan semangat juang para peserta, Mudir PP MBS Al Amin, Ustad. M. Hafidz Syarifuddin, M.Pd., memberikan sambutan yang membakar adrenalin. Ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kehadiran dan komitmen seluruh peserta.
“Raker ini adalah harga mati. Saya tidak ingin hasil-hasil yang kita rumuskan hanya berakhir di atas kertas dan menjadi pajangan di dinding,” tegas Ustad. Hafidz dengan nada penuh wewenang.
Beliau berpesan agar seluruh peserta mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh dan tuntas. “Kita sedang membangun peradaban lewat pendidikan. Karena itu, setiap butir keputusan harus diimplementasikan dengan sebaik-baiknya di lapangan. Ini adalah amanah yang tidak bisa ditawar,” pesannya.
Puncak dari sesi pembukaan adalah pengajian iftitah yang disampaikan oleh KH Zainuddin, AS, selaku Ketua Badan Pembina Pesantren (BPP) sekaligus sesepuh kharismatik pesantren. Kehadiran beliau dalam Raker yang ketiga kalinya ini disambut gegap gempita oleh para peserta.
Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan tiga pesan fundamental yang menjadi “doktrin” pembangunan pesantren ke depan. Pertama, “Bunyanun Marshush” (بُنْيَانٌ مَرْصُوْصٌ), yang berarti bangunan yang tersusun kokoh.
“Bayangkan sebuah tembok yang tersusun rapi dan kuat. Itulah yang harus kita wujudkan di sini. Sinergi struktural yang kita gaungkan hari ini harus melahirkan bangunan organisasi yang tidak mudah roboh diterpa badai zaman,” tutur beliau dengan logat khasnya.
Pesan kedua yang membuat ruangan hening adalah “Al-haqqu bila nizhamin yaghlibuhul bathilu bin nizham.” Kyai menjelaskan bahwa kebenaran yang tidak terorganisir dengan rapi, pada zamannya, pasti akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir dengan rapi.
“Ini adalah nasihat dari Imam Ali. Hari ini, musuh pendidikan bukan hanya kebodohan, tapi juga kekacauan. Karena itu, kita harus memiliki sistem dan manajemen yang tertata. Jangan biarkan kebenaran kita kalah hanya karena kita tidak tertib berorganisasi,” ucapnya serius.
Pesan ketiga dan terakhir adalah “Itqan” (إِتْقَان). Beliau meminta seluruh jajaran untuk mengedepankan profesionalisme dan kesempurnaan dalam bekerja.
“Itqan artinya melakukan sesuatu dengan sempurna, teliti, dan bersungguh-sungguh. Tidak ada tempat bagi pekerjaan asal-asalan di pesantren ini. Standar kerja kita harus setinggi langit. Jika bekerja dengan Itqan, insya Allah hasilnya akan berkah dan membawa kemajuan,” pungkas KH Zainuddin disambut gemuruh takbir dari peserta.
Acara yang masih berlangsung selama tiga hari ke depan ini dijadwalkan akan menghasilkan peta jalan (roadmap) baru, terutama terkait pengembangan Pilot Project sebagai percontohan untuk menjadikan pesantren sebagai pusat riset dan teknologi (Religi). Kehadiran peserta dari berbagai unsur ini menandakan betapa seriusnya keluarga besar Al Amin dalam mengawal transformasi pendidikan berbasis nilai-nilai Islam dan ilmu pengetahuan modern.
Dengan semangat yang menyala dan tausiyah yang mengakar, Raker ini menjadi bukti bahwa pesantren modern tidak hanya berbicara tentang hafalan Al-Qur’an, tetapi juga tentang manajemen, riset, dan ketahanan struktural menghadapi tantangan global. (S.to)