Bojonegoro, 1 Juni 2026 – Suasana Aula Simponi Pondok Pesantren MBS Al Amin pagi ini terasa berbeda. Seluruh dewan asatidz dan stakeholder pesantren duduk khidmat mengikuti sosialisasi konsep pilot project yang akan menjadi fondasi baru bagi pengembangan pesantren berbasis riset dan teknologi.
Di depan mereka, KH. Zainuddin, AS—Ketua Badan Pembina Pesantren (BPP) PP MBS Al Amin sekaligus kyai pesantren memaparkan visi besar yang bertujuan menjawab satu pertanyaan mendasar: Bagaimana pesantren dapat menjadi pusat inovasi teknologi tanpa kehilangan ruh keislaman dan akhlak mulia?
Di tengah paparannya, KH. Zainuddin secara khusus menyoroti peran guru. Beliau mengutip QS. Ali Imran ayat 159 yang menjelaskan bagaimana seorang pendidik harus bersikap lemah lembut, tidak keras hati, agar murid tidak menjauh.
“Ini adalah inti dari pendidikan. Seorang guru bukan hanya mengajar, tetapi mendidik. Di era teknologi sekalipun, prinsip ini menjadi fondasi utama,” tegas beliau di hadapan para asatidz.
Dari ayat itulah, seluruh konsep pilot project berangkat. Tujuannya jelas: menciptakan ekosistem pesantren yang memadukan kemajuan ilmiah dengan akhlak mulia, serta memastikan setiap inovasi teknologi tetap memiliki ‘Ruhul Ma’had’—jiwa pesantren yang sesungguhnya.
Dalam paparannya, KH. Zainuddin merinci empat konsep utama yang akan menjadi tulang punggung pilot project ini. Bukan sekadar struktur organisasi biasa, melainkan sebuah sistem yang saling menguatkan
1. Lembaga Riset: Menemukan Jawaban atas Kebutuhan Umat
Di sinilah proses intelektual dimulai. Lembaga riset bertugas mengintegrasikan dalil-dalil agama dengan penemuan teknologi mutakhir. Contohnya? Meneliti bagaimana Internet of Things (IoT) bisa membantu efisiensi pengelolaan zakat atau sistem pengairan pesantren.
Lebih dari itu, lembaga ini juga mengembangkan kurikulum berbasis masa depan, mendorong kemandirian ekonomi pesantren melalui unit usaha teknologi, serta membimbing santri untuk mempublikasikan karya ilmiah hingga mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI)
2. Divisi Teknologi: Eksekutor yang Mewujudkan Ide
Jika lembaga riset mencari tahu “apa yang harus dibuat”, maka divisi teknologi bertugas memastikan “bagaimana alat tersebut dibuat dan tetap berfungsi dengan baik.”
Divisi ini mengubah konsep menjadi produk nyata baik perangkat keras (mesin, alat sensor, robotika) maupun perangkat lunak (aplikasi pesantren, platform pembelajaran). Mereka juga mengelola infrastruktur digital, menerapkan teknologi tepat guna seperti smart building dan digitalisasi perpustakaan, serta melakukan perawatan rutin seluruh aset teknologi pesantren.
3. Tim Keulamaan: Penjaga Gawang Nilai Syariat
Di urutan ketiga, tim ini berfungsi sebagai kompas moral sekaligus “penjaga gawang” agar seluruh aktivitas riset dan teknologi tidak keluar dari koridor agama.
Tugasnya meliputi: integrasi nilai-nilai syariat (tashih) terhadap setiap inovasi, pembinaan karakter dan akhlak (adab) bagi para periset, kajian literatur Islam klasik (turats) sebagai inspirasi ilmiah, hingga penerbitan fatwa tekno-religius untuk panduan masyarakat. Tim ini juga membimbing santri dalam penguatan literasi dakwah digital.
4. Bidang Prestasi: Akselerator yang Menunjukkan Kualitas ke Dunia
Di posisi terakhir namun tidak kalah penting, bidang prestasi bertugas memastikan bahwa hasil riset dan inovasi santri diakui secara luas baik di tingkat nasional maupun internasional.
Mereka melakukan pemetaan potensi dan bakat, mengelola partisipasi dalam berbagai kompetisi (Olimpiade Sains, LKTI, Robotik), menyediakan pendampingan dan coaching dari mentor ahli, mendorong hilirisasi dan publikasi karya, hingga menyusun sistem evaluasi dan penghargaan (reward) untuk menjaga motivasi.
Dua jam berlalu, namun tidak ada satu pun asatidz yang terlihat bosan. Sebaliknya, wajah-wajah mereka mulai dipenuhi antusiasme. Sebab konsep yang dipaparkan bukanlah mimpi di siang bolong. Setiap divisi telah dilengkapi dengan tugas konkret dan contoh implementasi yang realistis.
“Singkatnya,” tutup KH. Zainuddin, “sehebat apa pun teknologi yang dihasilkan, ia harus tetap memiliki Ruhul Ma’had—jiwa pesantren dan membawa kemaslahatan bagi umat sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. Inilah mengapa pilot project ini kita mulai dari MBS Al Amin sebagai percontohan bagi pesantren-pesantren lain di Indonesia.”
Dengan disusunnya konsep yang jelas dan berurutan ini, MBS Al Amin Bojonegoro tidak hanya menegaskan posisinya sebagai pesantren modern, tetapi juga membuktikan bahwa iman dan teknologi dapat berjalan beriringan saling menguatkan, bukan saling bertentangan. (S.to)