BOJONEGORO, 12 Juni 2026 –Suasana penuh keakraban dan keterbukaan mewarnai forum yang menjadi wadah komunikasi langsung antara pengelola pesantren dan para wali santri. Selain mempererat silaturahmi, pertemuan juga dimanfaatkan untuk menyampaikan perkembangan program pendidikan, evaluasi kelembagaan, serta arah pengembangan pondok ke depan.
Mudir Pondok Pesantren MBS Al Amin, Muhammad Hafidz Syarifuddin, M.Pd., mengatakan bahwa keberhasilan pendidikan santri tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada pesantren. Menurutnya, dibutuhkan keterlibatan aktif orang tua agar proses pembinaan berjalan secara selaras antara lingkungan pondok dan keluarga.
Karena itu, pihak pesantren berupaya membangun komunikasi yang terbuka dan berkelanjutan dengan para wali santri.
“Kami ingin membangun kepercayaan dan sinergi yang kuat. Pesantren dan wali santri harus berjalan bersama dalam mendidik anak-anak agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara maksimal,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, pengelola pondok juga menyampaikan laporan singkat berbagai program yang telah dijalankan sebagai bentuk transparansi kepada wali santri. Langkah itu dinilai penting agar para orang tua mengetahui perkembangan pendidikan dan pembinaan yang diterima putra-putri mereka selama berada di lingkungan pesantren.
Sementara itu, Ketua Badan Pembina Pesantren (BPP), KH. Zainuddin, menekankan bahwa keberhasilan sebuah pesantren tidak hanya ditentukan oleh kualitas pembelajaran, tetapi juga oleh tata kelola organisasi yang baik.
Ia menjelaskan bahwa MBS Al Amin menerapkan konsep Empat Tertib sebagai fondasi pengelolaan lembaga, yakni tertib administrasi, tertib komunikasi, tertib keuangan, dan tertib pelaksanaan program.
Keempat pilar tersebut menjadi instrumen pengawal bagi lima fokus pengembangan pondok yang meliputi bidang pendidikan, sarana dan prasarana, pembiayaan, kaderisasi, serta kesejahteraan pesantren.
Menurut KH. Zainuddin, seluruh sistem tersebut harus dijalankan dengan berlandaskan nilai-nilai utama pesantren yang dikenal sebagai Panca Jiwa Pondok, yakni keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, gotong royong, dan kebebasan yang bertanggung jawab.
Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa keberadaan MBS Al Amin tidak hanya bertujuan mencetak lulusan yang unggul secara akademik dan agama, tetapi juga mempersiapkan kader-kader yang mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat dan bangsa.
“Kami ingin melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter kepemimpinan, jiwa pengabdian, dan kemampuan menjadi penggerak di tengah masyarakat,” tuturnya.
Menurutnya, santri yang dididik di MBS Al Amin diarahkan untuk menjadi kader umat, kader ulama, kader pemimpin, kader pengusaha, dan berbagai profesi strategis lainnya yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.
Komitmen tersebut mendapat respons positif dari para wali santri yang hadir. Mereka menilai pendekatan pendidikan yang diterapkan pondok tidak hanya berfokus pada aspek keagamaan, tetapi juga membekali santri dengan keterampilan hidup dan kemampuan kepemimpinan yang dibutuhkan di masa depan.
Salah satu wali santri, Ahmad Subandi, mengaku optimistis terhadap arah pengembangan pendidikan di MBS Al Amin.
Menurutnya, para orang tua merasa lebih tenang karena anak-anak mereka tidak hanya mendapatkan ilmu agama, tetapi juga pembinaan karakter dan kemampuan yang dapat menjadi bekal saat terjun ke masyarakat.
Pertemuan kemudian ditutup dengan doa bersama serta komitmen untuk terus memperkuat peran wali santri dalam mendukung berbagai program pondok, baik dalam aspek pengawasan, pengembangan kelembagaan, maupun kaderisasi.
Melalui sinergi yang semakin erat antara pesantren dan keluarga, MBS Al Amin berharap mampu memperkuat posisinya sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mencetak santri berprestasi, tetapi juga melahirkan generasi pemimpin masa depan yang berakhlak, mandiri, dan berdaya saing.(sto)