BOJONEGORO, 11 Februari 2026 – Suasana halaman Pondok Pesantren MBS Al Amin Bojonegoro berubah menjadi lautan kemeja kuning pada Rabu malam. Bukan sekadar seremonial pergantian jabatan, pelantikan Pimpinan Ranting (PR) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) periode 2026-2027 di pondok berbasis riset dan teknologi ini menjelma menjadi deklarasi perang terhadap stagnasi organisasi.
Dengan mengusung tema “Reorientasi Arah Gerak Organisasi Membentuk Generasi Bersinergi”, forum pelantikan ini tidak hanya menyoroti estafet kepemimpinan, tetapi juga menjadi momentum introspeksi kolektif.
Samudra Banyu Bening, Ketua IPM periode 2025-2026, dalam sambutan perpisahannya menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar soal memegang jabatan, melainkan keberanian untuk menilik ulang visi besar.
“Periodesasi harus membawa perbaikan. Bukan sekadar ganti orang, tapi reorientasi arah. Tema ini harus menjadi ruh pergerakan IPM di MBS Al Amin yang kita cintai ini,” tegas Samudra di hadapan pengurus baru dan undangan.
Nada optimisme yang lebih tinggi disuarakan oleh Hisyamudin, nahkoda baru IPM periode 2026-2027. Dalam pidato perdananya usai dilantik, ia menyebut organisasi ini sebagai laboratorium kepemimpinan.
“IPM adalah wadah untuk ditempa. Saya tidak ingin kader di sini hanya jadi penonton. Kami akan menjadikan IPM sebagai ruang tumbuh, ruang belajar, dan ruang berkontribusi. Jika bukan kita yang memajukan pondok dan IPM, siapa lagi?” ujar Hisyamudin disambut gegap gempita anggotanya.
Hadir dalam acara tersebut, Ketua PC IPM Bojonegoro menyampaikan pesan yang tak kalah tajam. Ia menekankan bahwa kerja organisasi adalah kerja kolektif. Ia mendorong PR IPM MBS Al Amin bisa berkolaborasi dengan PC dalam berbagai agenda pengkaderan.
“Sinergi itu wajib. Tidak ada organisasi yang besar jika berjalan sendiri. Kolaborasi antara ranting dan cabang adalah kunci militansi,” ujarnya.
Di tengah semarak pelantikan, Ustad Fajar dalam tausiyahnya memberikan kejutan retorika. Menurutnya, ujian terbesar pemimpin bukan saat memimpin, tetapi saat dipimpin.
“Pemimpin harus siap dipimpin. Jangan cuma mau menyuruh, tapi harus siap berpeluh, kerja keras, dan jadi teladan. Jika tidak siap direndahkan, jangan harap bisa ditinggikan,” pesannya yang membuat ruangan hening lalu bertepuk tangan.
Puncak acara semakin bergairah saat Mudir PP MBS Al Amin, Ustad M. Hafid Syarifuddin, M.Pd memberikan sambutan. Ia menyebut pelantikan ini bukan sekadar seremoni, melainkan awal dari pembeda.
“Saya ucapkan selamat kepada pengurus baru. Kepengurusan IPM ini akan membedakan dirinya dengan yang lain, asal satu syarat: punya tekat dan semangat yang membara,” katanya disambut riuh tepuk tangan.
Ustad Hafid menekankan tanggung jawab seorang kader tidak berhenti di dunia. Ada pertanggungjawaban akhirat yang menanti.
“Kesadaran itu kuncinya. Jika tidak cinta organisasi dan pondok, jangan harap ada pergerakan. Maka bergeraklah, tunaikan tugas, karena semuanya akan dimintai pertanggungjawaban kelak,” ujarnya menutup sambutan.
Pelantikan ini menjadi bukti bahwa IPM di MBS Al Amin tidak sedang main-main. Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, mereka memilih untuk reorientasi—bukan sekadar bertahan, tapi melompat. (S.to)
